
Kisah Hidup St. Valentinus
St. Valentinus hidup antara tahun 175 hingga 245, pada masa penganiayaan terhadap orang Kristen sedang marak di kekaisaran Romawi. Ia lahir dalam keluarga bangsawan yang mengabdikan diri menjadi Uskup di Terni pada tahun 197. Ia ditahbiskan oleh St. Felician dari Foligno.
St. Valentinus sangat peduli dan berbelas kasih kepada orang yang membutuhkan. Ia sering melakukan mukjizat dan menyembuhkan orang sakit. St. Valentinus adalah seorang yang beriman teguh kepada Kristus. Bukti keteguhannya diuji ketika tetap mempertahankan imannya kepada Kristus meskipun harus dipenjara dan dijatuhi hukuman mati.
St. Valentinus menjadi martir pada tanggal 14 Februari. Prasasti sejarah mencatat bahwa ia dipukul secara brutal, dipenjara, dan dipenggal kepalanya atas perintah prefek Romawi, Placidus. Ia dimakamkan di luar tembok kota di sepanjang Via Flaminia di Terni. Pada abad ke-5, makamnya menjadi tempat ziarah utama.
Sang Pelindung Cinta
Berabad-abad setelah kemartirannya, penghormatan kepada St. Valentinus menyebar ke seluruh Eropa. Penyebaran tersebut sebagian besar berkat pewartaan para biarawan Benediktin. Nama St. Valentinus telah sinonim dengan cinta mulai pada abad pertengahan. Salah satu legenda menyatakan bahwa Santo Valentinus secara diam-diam memberikan Sakramen Perkawinan kepada pasangan Kristen. Kala itu kaisar membuat aturan wajib militer dan salah satu syaratnya, tidak boleh menikah.
Sementara itu, kisah lain menyatakan tentang Mawar Rekonsiliasi. St. Valentinus pernah mempersembahkan setangkai mawar kepada pasangan yang sedang bertengkar. Ia membimbing mereka untuk memegang tangkainya bersama-sama tanpa saling menyakiti. Ia juga mengajarkan mereka tentang “satu hati”.
Kisah yang paling mengharukan adalah kisah Sabino dan Serapia, seorang prajurit Romawi dan seorang wanita Kristen yang dilarang menikah karena perbedaan keyakinan. Akhirnya Sabino memilih bertobat dan dibaptis oleh Uskup Valentinus. Sebelum pernikahan berlangsung, Serapia jatuh sakit. St. Valentinus memimpin pernikahan mereka saat mereka telah meninggal dunia, terikat selamanya dalam cinta dan iman.
Sekularisasi Kisah St. Valentinus
Ada dua pendapat yang menjelaskan tentang sekularisasi kisah Santo Valentinus. Pertama, hari raya Santo Valentinus menggantikan festival kesuburan Romawi Kuno, Faunalia yang dirayakan pada tanggal 13 Februari. Kedua, hari raya Santo Valentinus dikaitkan dengan pembaruan kehidupan musiman yang ditandai dengan bunga-bunga yang mekar dan burung-burung mulai kawin. Terlepas dari semua sekularisasi kisah St. Valentinus, perayaan hari Valentine sering kali dikaitkan terbatas pada pemberian hadiah dan romansa. Memang hal itu memiliki banyak perbedaan dengan kisah asli dari Santo Valentinus. Kehidupan St. Valentinus setidaknya memberi contoh bagi kita tentang cinta yang penuh pengorbanan, komitmen dan kesetiaan.
*Disadur dari berbagai sumber oleh Detianus Gea